Senandung kecil terdengar halus dari pekarangan rumah yang ditumbuhi beberapa bunga di sekitar pagarnya. Mahesa kecil, yang baru saja pulang dari kegiatan bermainnya, seketika terkejut mendapati seorang anak kecil sedang asyik mencabuti dedaunan di pekarangan rumahnya.

Sembari terus melantunkan lagu yang entah berjudul apa, Hanan kecil masih menyibukkan dirinya dengan setiap petikan dari jari-jari tangan mungilnya. Mahesa yang semakin mendekat, memilih untuk diam terlebih dahulu, sementara Hanan tampak sama sekali tidak menyadari kehadiran anak lelaki di belakangnya tersebut.

Akhirnya karena Mahesa merasa kehadirannya tidak diindahkan, ia berceletuk, "Mau sampai rusak seperti apa lagi bunga itu kamu petik?" Mahesa dengan dagunya yang sedikit mendongak pongah, menatap mata Hanan yang akhirnya menoleh dan mendapati keberadaan Mahesa di belakangnya.

Penampilan mereka tampak kontras, padahal kegiatan yang telah mereka lakukan sama-sama melelahkan dan menguras tenaga. Dimana saat ini Hanan sudah terlihat sangat cemong; dengan sapuan tanah di beberapa sisi wajahnya, baju hitam yang sudah tidak masuk ujungnya ke dalam celana bola berwarna biru pendeknya, rambut mangkuk berantakan, dan peluh membanjiri dahinya. Berbanding terbalik dengan Mahesa yang penampilannya masih rapi, rambut tertata rapi seperti anak itu membawa sisir kemana saja ia pergi, jaket berwarna coklat yang kupluknya menutup separuh kepalanya, celana jeans pendek berwarna biru malam, dengan sepatu yang hanya memiliki sedikit noda di bagian sampingnya. Mahesa membawa sebuah skateboard yang ia dekap di lengan kirinya.

“Halo! Nama aku Anan, dan rumah aku ada di depan sana! Aku nggak mau rusak bunga ini kok, Kakak. Aku cuma bersihkan daun-daun yang sudah layu supaya bunganya cantik dilihat. Tuh ‘kan, bunga melati-nya jadi bagus!”

“Bunga melati apanya? Itu aja bunga lily.” ucap Mahesa dalam hati, meralat Hanan yang bersikap sok tahu.

Mahesa masih diam memandang Hanan yang terus berbicara tanpa henti. Memang benar kata bocah itu, bunga milik bunda tidak ada yang rusak ataupun layu, melainkan jadi enak dipandang mata. Ah, mungkin sang ibunda lupa untuk membersihkan tanamannya. Ingatkan Mahesa untuk memberi tahu bunda nanti.

“Oh iya, Kakak, aku mau kasih ini! Kata Mamih aku harus kasih kue ini ke semua tetangga baru, soalnya kami baru pindah dari jauh. Aku tadi udah kesini beberapa kali, loh! Tapi nggak ada orang, jadinya aku antarkan ke rumah lain dulu. Jadi Kakak terkahir yang dapat kue bikinan mamih aku!” Setelah lama berbicara, akhirnya yang lebih muda mengingat tujuan awal dirinya kemari. Diangkatnya kotak warna merah dengan corak putih dengan kedua tangannya, ia julur dan arahkan tepat ke depan wajah Mahesa yang mengernyit bingung.

Yang lebih tua mendorong sedikit kotak tersebut, karena hampir mengenai ujung hidung mancungnya. Ia bahkan tidak bisa melihat wajah bocah di depannya akibat tertutup oleh kotak tersebut.

Kotak merah itu ia ambil dari kedua tangan yang lebih kecil, kondisinya sudah sangat buruk, penyok di beberapa bagian kotak, yang pastinya sudah berdampak pada apa saja yang ada di dalamnya. Mahesa tahu mengapa kotak tersebut begitu parah bentuknya, karena dengan tidak pintar, Hanan mengapit kotak mengenaskan itu di sela ketiaknya.